RSS

Cerpen

22 Feb

Malam Natal….

Indonesia, 24 Desember 2000

Seorang gadis kecil berdiri di belakang kedua orang tuanya yang sedang sibuk mencari beberapa hiasan untuk pohon natal. Gadis kecil itu tetap menunggu dengan sabar, menanti orang tuanya memanggil untuk melanjutkan perjalanan mereka. Untuk seorang gadis kecil yang berusia sekitar lima tahun menunggu bukanlah hal yang mudah, terutama ketika toko-toko sudah memajang mainan untuk hari natal. Untuk anak kecil sepertinya mainan adalah harta karun yang berharga, bahkan sebuah boneka beruang bisa menarik semua perhatiannya dari orang tuanya, dan membuatnya berjalan mendekat ke arah boneka itu dipajang. Dia berdiri di depan etalase memperhatikan boneka itu dengan saksama “Wahh, bagus, aku mau itu” cetusnya dengan polos. Dia berbalik berlari menuju tempat orang tuanya berada, tapi siapa yang sangka, kesibukan orang tuanya yang sedang berbelanja membuat mereka tidak sadar akan keberadaan anaknya yang mungil.

Gadis itu berdiri di tempat ia tadi menunggu orang tuanya tapi disana ia tidak melihat orang tuanya, ia mulai mencari dengan gelisah, berputar-putar, berlari kesana kemari, memanggil sambil terisak “Ibu, Ayah, huuuu, Ibuuuu, Ayahhh” dia terus berlari mencari kedua orang tuanya tanpa mempedulikan jalan yang ia pijak atau bahkan orang-orang yang ada di depannya. Hingga tiba-tiba, BBRRUUGG dia terjatuh menubruk seseorang. Ia menangis karena kesakitan juga karena tidak dapat menemukan orang tuanya, orang yang tadi ditubruknya berlutut dan menariknya berdiri “Gadis itu mengangkat kepalanya dan melihat seorang  anak laki-laki tersenyum padanya “Kenapa kau menangis?” tanya anak laki-laki itu dengan senyum yang masih tersungging. “Aku tidak bisa menemukan orang tuaku” jawabnya sambil masih menangis. “Jangan menangis, ayo kita cari orang tuamu, tapi sebelumnya, kamu siapa?” tanya anak laki-laki itu dengan polos “Aku Sara, umurku 5 tahun kau siapa? Umurmu berapa?”

“ Aku Adrian, umurku 6 tahun”

“Kamu lebih tua dari aku” Sara sudah berhenti menangis sekarang dia diam sambil memperhatikan anak laki-laki itu, Sara terus mengamatinya menyimpan semua hal yang mampu ia ingat nantinya, Adrian memiliki rambut berwarna coklat tua dan mata yang berwarna abu-abu, kulitnya tidak coklat tapi juga tidak putih, hanya dengan melihatnya Sara tahu dia bukan orang Indonesia karena cirri-cirinya berbeda dengan ayahnya ataupun anak laki-laki lain yang pernah ia temui. Sara masih diam sambil menatapnya sedangkan Adrian hanya mengerjapkan matanya beberapa kali, tak lama dari itu terdengar suara seorang wanita memanggil nama Sara “SARA, YA TUHAN, syukurlah kau baik-baik saja, ibu sangat khawatir”

“Ibu, ibu sama ayah kemana aja?” Sara langsung memeluk ibunya dan menangis, rasa lega terlihat diwajah gadis itu. “Maaf ibu dan ayah terlalu asyik berbelanja, sekarang kita pulang, ayo” Sara mengangguk dan mengikuti ibunya sebelum itu ia sempat berbalik kebelakang melihat Adrian sekejap lalu tersenyum dan berjalan mengikuti ibunya.

Inggris, 24 Desember 2007

Sara berjalan cepat menuju restoran tempat ayah dan ibunya mengajaknya untuk makan, restoran itu khusus menjual masakan Indonesia. Maka dari itu Sara sangat bersemangat untuk pergi ke restoran, ia mulai berlari di trotoar  tanpa mempedulikan jalan yang ia pijak atau bahkan orang-orang yang ada di depannya. Hingga tiba-tiba, BBRRUUGG dia terjatuh menubruk seseorang, “Awww, sakit” karena refleks ia terjatuh dan mengeluh dengan bahasa Indonesia. Sara tau orang yang ditubruknya pasti memperhatikannya dengan aneh karena ia menggunakan bahasa asing saat berbicara, tapi dugaan Sara salah orang yang menubruknya malah mengulurkan tangannya dan bertanya dengan bahasa Indonesia “Kau tidak apa-apa?”. Sara mengangkat kepala dan langsung berhadapan dengan seorang laki-laki, Sara terus memperhatikan orang yang ada di hadapannya, ‘laki-laki itu sepertinya tidak asing’ pikirnya. Laki-laki itu memiliki rambut berwarna coklat tua dan mata yang berwarna abu-abu, kulitnya tidak coklat tapi juga tidak putih, hanya dengan melihatnya Sara tahu dia bukan orang Indonesia, tapi kenapa dia bisa berbahasa Indonesia? “Kau sepertinya tidak asing, kalau boleh tahu siapa namamu?”

“Sara umurku 12 tahun, kau sendiri siapa? Berapa umurmu?” kali ini Sara merasa pernah mengalami hal yang sama, ‘tapi kapan?’ pikirnya. Kemudian laki-laki itu menjawab

“Namaku Adrian umurku 13 tahun”

“Kau lebih tua satu tahun dariku”

“Iya, kau benar, sepertinya kau sedang buru-buru tadi”

“AH, kau benar terima kasih, dan selamat natal” Sara mulai berjalan tapi tiba-tiba

“Sara”. Laki-laki itu memanggilnya tapi dengan suara kaget bukan suara sesorang yang ingin memanggil, Sara berbalik dan saat itulah ia sadar, mata abu-abu pertama yang pernah ia lihat, Adrian anak laki-laki yang tidak sengaja menubruknya tujuh tahun yang lalu. Sara berjalan mendekat lalu tersenyum “Adrian, aku tak menyangka kita akan bertemu lagi, lebih anehnya lagi di Inggris” kali ini Adrian yang tersenyum lalu berkata “Aku lebih kaget kita bisa bertemu dengan cara yang sama, hahahahah” tawanya pecah, dan membuat Sara kebingungan “Kenapa kau tertawa?”

“Aku senang bisa bertemu lagi denganmu, bagaimana jika kita bertemu lagi besok dan besoknya lagi?”

“Tentu kenapa tidak?” Sara tertawa kemudian mengatakan selamat tinggal dan pergi menuju restoran. Beberapa bulan berlalu dan libur natal berakhir. Selama liburan ia sering bertemu dengan Adrian dan mengobrol, tapi Sara tahu sekarang akan sulit untuk bertemu Adrian karena sekarang saatnya kembali ke sekolah.

Hari ini sara bangun pagi sekali ia pergi berolahraga dan sarapan dengan lahap. Setelah selesai ia pergi sekolah. Ketika di sekolah ia tidak sengaja mengambil buku yang salah ketika di perpustakaan saat ia melihat namanya disana tertulis ‘Adrian’. Dia memutuskan untuk kembali ke meja baca di ujung dekat jendela untuk mengembalikan buku itu, ketika sampai ia bertemu dengan Adrian “Kau sedang apa disini?” tanya Sara kaget.

“Aku sekolah disini, dan itu bukuku”

Sara semakin kaget, ia menyerahkan buku itu pada Adrian sambil tersenyum malu dan bingung.

“Kau tahu aku rasa kita harus berhenti bertemu dengan cara seperti ini” Adrian tertawa begitu pula Sara.

Siang itu di taman sekolahnya ketika mereka sedang mengobrol mereka membuat janji.  Setiap malam natal mereka akan bertemu di taman kota dan melihat pohon natal bersama.

Inggris, 20 Desember 2012

Janji itu tak pernah sedetikpun Sara lupakan, sejak saat itu mereka selalu bersama bahkan mereka masuk univeristas yang sama. Sara tahu Adrian sudah menjadi teman baiknya selama lima tahun ini dia juga tahu Adrian selalu menceritakan segalanya pada Sara dan itu yang membuat Sara mencintainya, Adrian selalu ada setiap saat Sara membutuhkannya, dia selalu hadir di setiap sela waktu dan harinya, tapi Sara selalu merasa ada sesuatu yang Adrian sembunyikan.

Tiga hari berlalu dan sejak tiga hari yang lalu dia tidak bertemu dengan Adrian, Sara merasa sedikit khawatir karena biasanya jika mereka tidak bertemu satu sama lain Adrian pasti menghubunginya atau mengirim pesan ke handphonenya tapi kali ini nihil, tak ada apapun bahkan kabarpun tidak ada. Tapi Sara sudah merasa sedikit tenang karena besok malam mereka akan bertemu lagi.

Inggris, 24 Desember 2012

Sara menunggu Adrian dengan sabar, hari ini ia berencana mengatakan perasaannya pada Adrian jadi malam ini akan sangat spesial. Tapi Adrian tidak juga muncul padahal sekarang sudah jam 10 malam, biasanya dia sudah datang pada pukul 8 malam tapi kali ini bahkan ketika Sara menunggunya selama 30 menit lagi dia tetap tidak muncul. Sara mulai gelisah juga kecewa. Jam 11 dan Adrian masih belum muncul, 11.30 belum juga muncul, 12.00 masih belum muncul, 12.30 tidak muncul. Sara kembali dengan air mata di pipinya, dia kecewa Adrian tidak menepati janji, maka dari itu ia tidak akan dengan mudah memaafkan Adrian dan dia tidak akan menghubungi Adrian atau membalas pesannya. Sara salah Adrianlah yang tidak menghubunginya, tiga hari berlalu dan masih tidak ada berita, seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, tiga bulan, Adrian menghilang tanpa jejak selama tiga bulan, dia tidak ada di sekolah, handphonenya tidak bisa dihubungi dan pesan dari Sara tidak pernah ia balas, kebencian mulai bertumpuk di hati Sara, semakin lama kepercayaannya semakin berkurang pada Adrian.

Hingga suatu pagi, seorang gadis yang empat tahun lebih tua darinya muncul di depan pintu sambil membawa sepucuk surat. “Apa kau Sara?” tanyanya pada Sara dengan lembut.

“Ya, aku Sara, ada apa?”

“Ini, aku mau memberikan surat ini padamu, surat ini dari Adrian”. Tubuh Sara menegang mendengar nama itu wajahnya mengeras dan jantungnya berdegup kencang di dadanya.

“Kenapa ia memberiku surat? Kenapa ia tidak bicara langsung?” gadis itu diam saat Sara bertanya tentang Adrian wajahnya berubah muram.

“Aku kakaknya Adrian, apa kau tidak tahu?”

“Apa?” tanyanya Sara dengan singkat

“Adrian meninggal saat malam natal, ia mendapat serangan jantung ketika di perjalanan menuju taman kota”

“ Apa?, apa kau bilang tadi. Itu tidak mungkin”

“Adrian memiliki penyakit jantung sejak lahir, dia tidak pernah menyerah dalam hidupnya, maaf aku harus pergi pesawat kami akan lepas landas”

“Pesawat? Kalian mau kemana?”

“Kami akan kembali ke Indonesia, Sara maaf Adrian tidak bisa menepati janjinya, tapi ia selalu mencintaimu”

Setelah kakak Adrian pergi, Sara mulai menangis tersedu-sedu terutama ketika ia selesai membaca surat dari Adrian dan saat itu juga semua kebenciannya pada Adrian hilang bagai debu diterpa angin.

Lima tahun berlalu sejak kematian Adrian, tapi Sara masih belum bisa melupakannya, dan setiap malam natal selama lima tahun ini Sara selalu pergi ke taman kota untuk melihat pohon natal dan mengenang Adrian.

Isi surat dari Adrian,

Terima kasih sudah menjadi sebagian dari cerita hidupku, terima kasih kau sudah mencintaiku, dan terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk mencintaimu. Dan maaf jika aku pernah menyakitimu.

‘ Selamanya, kau yang akan aku cintai hingga nafasku berhenti berhembus’

 

 
Leave a comment

Posted by on February 22, 2013 in Story

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: